Print
Category: Artikel
Hits: 12922

Beberapa pekan lalu tepatnya tanggal 3 Mei 2012, Pemerintah Kabupaten Grobogan melakukan kegiatan pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke 9 yang diselenggarakan bersamaan dengan Peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-40 di Desa Kramat kecamatan Penawangan Kabupaten Grobogan.

Pada acara tersebut, Wakil Bupati Grobogan menyampaikan dalam sambutannya bahwa kegiatan pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke 9 tersebut merupakan salah satu momentum untuk memecahkan permasalahan dengan memberdayakan masyarakat dalam rangka membangun bersama antara pemerintah, masyarakat dan para pemangku kepentingan dengan mengedepankan semangat gotong royong dalam rangka menuju terciptanya kemandirian bangsa yang sejahtera baik lahir maupun batin yang dilandasi dengan iman dan takwa.

Selaras dengan tema peringatan tahun ini yaitu ” Melalui bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat dan Hari Kesatuan Gerak PKK kita tingkatkan semangat persatuan dan kesatuan serta partisipasi Masyarakat menuju Kemandirian Bangsa ” tersebut, oleh Wakil Bupati Grobogan dalam sambutannya juga menyampaikan bahwa upaya menyukseskan program pemberdayaan melalui akses informasi dan memotivasi masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya lokal harus dilandasi dengan semangat kegotong-royongan. Selain itu gagasan untuk lebih menggelorakan semangat gotong royong dan keswadayaan masyarakat dalam pembangunan lebih didasari pada peningkatan kepedulian dan peran aktif masyarakat dalam pembangunan berlandaskan semangat gotong royong dan swadaya yang merupakan sistem budaya yang telah menyatu didalam kehidupan masyarakat kita agar masyarakat memiliki dan tanggung jawab dalam melaksanakan dan memanfaatkan hasil-hasil pembangunan. Dalam kesempatan yang sama pada acara tersebut oleh Ketua Tim Penggerak PKK Grobogan, Dyah Bambang Pudjiono, S.E juga menyampaikan bahwa BBGRM dan HKD PKK lebih ditujukan untuk menjaga kegotong royongan yang kini dirasa mulai pudar. Selain itu, meningkatkan kemitraan antara masyarakat dan pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan, serta membangun rasa memiliki dan rasa tanggung jawab masyarakat terhadap hasil pembangunan dan pemerataan pembangunan.

Selanjutnya berdasarkan kegiatan pencanangan BBGRM tersebut serta sambutan Wakil Bupati Grobogan maupun sambutan Ketua Tim Penggerak PKK Grobogan tersebut, melalui tulisan ini akan mencoba memaknai dengan sedikit mengulas untuk mencari apa yang menjadi penyebab memudarnya budaya gotong royong pada masyakat kita saat ini.   Untuk menjadi pemahaman kita bersama kita akui atau tidak bahwa bangsa Indonesia ini dapat melepaskan diri dari cengkaraman penjajah adalah melalui gotong royong. Bangsa Indonesia ini dapat tumbuh dan berkembang menjadi bangsa yang besar adalah melalui gotong royong. Sehingga budaya gotong royong telah menjadi tradisi sebagai budaya warisan lelulur yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Namun sejalan dengan perkembangan jaman, menurut analisis kami semenjak faham modernisasi dan globalisasi melahirkan corak kehidupan yang sangat kompleks yang tanpa disadari semakin derasnya arus informasi, modernisasi dan globalisasi, lambat laun budaya gotong royong mulai memudar. Karena mau tidak mau suka tidak suka dapat kita rasakan bersama bangsa ini mulai kehilangan kepribadiannya sebagai bangsa yang kaya akan unsur budaya yang salah satunya adalah budaya gotong royong.   Contoh riil yang sekarang ini sudah sulit kita lihat misalnya apabila dahulu kita masih menjumpai masih adanya budaya gotong royong dalam mata pencarian pertanian tradisional dimana ketika orang menggarap tanah, mereka memerlukan tenaga kerja yang banyak untuk mencangkul tanah, menanam benih, mengatur saluran air, memupuk tanaman dan menyiangi tanaman.. Demikian juga pada saat musim panen tiba. Warga masyarakat itu bergotong royong memetik padi, mengeringkannya, serta memasukkannya ke dalam lumbung. Contoh lain misalnya gotong royong mendirikan rumah (sambatan bahas jawa), kerja bakti membersihkan desa (gugur gunung dalam bahasa jawa) mulai sekarang ini sudah mulai tidak pernah kita jumpai dalam masyarakat kita.

Kondisi riil dalam kehidupan sehari-hari kehidupan ekonomi misalnya, yang semula masyarakat pedesaan sebagian besar pada sektor pertanian, setelah masuknya masa industrialisasi, semangat gotong royong masyarakat berkurang, hal ini disebabkan karena masyarakat sekarang cenderung besifat individualistis, sehingga ada anggapan umum ” hidup bebas asal tidak mengganggu kehidupan orang lain”. Kondisi riil lainnya seperti pola pikir agamis yang menjadi ciri bangsa  berketuhanan, sekarang ini semakin tergeser oleh pola pikir materialis yang mengukur dan menilai sesuatu berdasarkan nilai material. Dalam kehidupan bernegara pun masyarakat kita yang dulunya menjunjung tinggi budaya musyawarah untuk mencapai mufakat sebagai metode mengambil keputusan, kini hanya mementingkan golongan sebagai pimpinan partai politik saja.

Akhirnya berdasar dari kondisi riil tersebut diatas hingga banyak orang sering mengatakan bahwa budaya gotong royong masyakat kita mulai memudar dapat saya maknai sebagai sebuah keprihatinan yang sangat mendalam. Karena menurut analisis kami semua itu terjadi karena bangsa Indonesia sudah jauh melupakan sejarah. Padahal sejarah adalah hukum yang kelak akan menguasai kehidupan manusia. Para pendiri bangsa ini pernah berpesan ”Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”, karena sejarah sebagai cermin untuk melangkah kedepan. Mempelajari sejarah, bukan berarti kembali ke masa yang lampau, akan tetapi sejauh mana kita bisa mengambil makna dari kehidupan pendahulu-pendahulu kita untuk bisa menjadi penerus dalam membangun kehidupan bangsa ini.

Fenomena yang terjadi saat ini, salah satunya merupakan dampak karena kita tidak pernah mempelajari sejarah. Lihat bagaimana masalah suatu partai politik (parpol) saat ini, seolah-olah menjadi masalah seluruh rakyat Indonesia, padahal bangsa dan Negara Indonesia tidak dibangun dengan parpol. Bangsa ini dibangun dengan komitmen untuk mengangkat harkat dan martabat hidup rakyat Indonesia terbebas dari belenggu penjajahan. Contoh misalnya melaui momentum Sumpah Pemuda sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia, dengan komitmen pemuda dari Sabang sampai Merauke yang menyatakan bertanah air satu, berbangsa satu yaitu bangsa Indoensia serta menjunjung bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia

Hal ini menunjukkan bahwa perjuangan bangsa ini sangat mengedapnkan prinsip gotong-royong sebagai suatu komitmen untuk mencapai cita-cita sebagai bangsa yang merdeka. Menurut kami apabila prinsip ini dijalankan maka tidak ada pertentangan yang mengarah pada perpecahan. Musyawarah yang dijalankan secara kekeluargaan dan terbangun dengan suasana kegotong-royongan akan menghasilkan permufakatan yang akan dijalankan bersama-sama. Dengan budaya gotong royong diharapkan yang akan memberikan pembelajaran kepada kita semua. Bagaimana kita belajar saling menghormati, menghargai pendapat orang lain, bersikap objektif, tidak berburuk sangka dan tidak melecehkan antara satu dengan yang lainnya, saling memberikan ilmu dan saling tolong menolong merupakan cerminan sikap kekeluargaan yang terbangun dengan sikap gotong-royong. Selanjutnya diakhir ulasan ini, untuk membangun dan memotivasi kembalu semangat gotong royong tentunya tidak hanya sebatas seremonial seperti diperingati dan dicanangkan saja. Akan tetapi pemerintah perlu melakukan pendekatan kepada seluruh elemen masyarakat untuk dibimbing, dimotivasi dan difasilitasi secara bertahap melalui program-program pembangunan agar jatidiri nilai-nilai semangat gotong royong dapat terbangun kembali. ( Disarikan dari berbagai sumber ).

Artikel ini ditulis oleh : Lamijan, S.Sos, M.Si